Langsung ke konten utama

MENGENAL WALI YANG ASWAJA

MENGENAL WALI YANG ASWAJA Oleh Abulwafa Romli Imam Ali bin Muhammad al-Jarjani dalam al-Ta’rifat-nya berkata: “Term al-waliy itu mengikuti wazan fa’iyl (istilah ini terkait ilmu sharof, bagi kita yang tidak pernah mempelajarinya tentu tidak akan paham) dengan makna faa’il, yaitu orang yang terus melakukan ketaatan dengan tanpa mencampurnya dengan maksiat, dan ini biasa disebut wali kasbiy (derajat wali hasil kerja kerasnya sendiri); atau mengikuti wazan fa’iyl dengan makna maf’uul, yaitu orang yang mendapat limpahan ihsan (pemberian kebaikan) dan ifdlal (pemberian anugerah) dari Allah swt, dan ini biasa disebut wali ladunniy (derajat wali yang lasung diberikan oleh Allah, dimana salah satu sebabnya adalah orang tuanya atau gurunya yang telah menjadi wali, yang terus berdoa kepada Allah agar anaknya atau muridnya juga menjadi wali, lalu Allah mengabulkannya). Wali seperti ini ada yang dulunya adalah ahli maksiat, lalu tiba-tiba kondisinya berubah 180 derajat, karena mendapat ihsan dan ifdlal dari Allah swt. Wali (al-waliy) adalah al-Aarif (orang yang mengenal / makrifat) kepada Allah swt dan kepada sifat-sifat-Nya, yang kontinu dalam melaksanakan ketaatan, yang menjauhi kemaksiatan, dan yang tidak berlebihan dalam menikmati dan menyenangi kelazatan dan sahwat dunia”. Arti makrifat kepada Allah ialah mengerti bahwa manusia (termasuk dirinya), alam semesta dan kehidupan, semuanya adalah makhluk (ciptaan) dan pasti ada penciptanya. Kemudian ia menemukan dan meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa penciptanya adalah Allah swt. Jadi ia makrifat kepada Allah melalui proses berfikir mengenai ciptaan-Nya. Sebab mustahil manusia, alam semesta dan kehidupan yang luas dan besarnya tidak terukur dan tidak pula terdeteksi oleh kekuatan akal manusia, itu terjadi tanpa ada yang menciptakannya. Sedang benda sekecil jarum saja ada yang menciptakannya. Makrifat kepada Allah itu bukan melihat langsung Zat (diri) Allah, baik dengan mata kepala atau dengan mata hati seperti klaim sebagian sufiyah. Karena semua manusia selain para rasul, baik muslim atau non muslim, semuanya dituntut agar beriman kepada Allah sebagai Pencipta. Sedangkan iman itu hanya terkait dengan perkara-perkara ghaib. Kita beriman kepada Allah kerena kita belum melihat Diri Allah secara langsung. Sedang al-Qur’an dan as-Sunnah keduanya telah menjelaskan bahwa Diri Allah itu bisa dilihat di akhirat saja, yaitu di surga, sebagai nikmat terbesar bagi penduduk surga. Sedangkan wajibnya beriman kepada Allah itu harus sampai mati. Berarti manusia itu selain para rasul tidak ada yang bisa melihat Diri Allah di dunia ini, karena kalau ada yang bisa melihatnya, maka ia sudah tidak wajib beriman lagi, karena baginya Allah sudah tidak ghaib lagi. Inilah bukti bahwa klaim sebagian sufiyah diatas adalah klaim bathil. Bisa saja yang telah dilihat oleh mereka hanyalah Iblis yang mengaku sebagai Tuhan, mengaku sebagai Allah swt. Ini banyak dijelaskan oleh para ulama, termasuk dalam kitab manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani yang pernah didatangi Iblis yang mengaku sebagai Allah swt. Dan termasuk makrifat kepada Allah swt adalah makrifat kepada sifat-sifat-Nya. Pembagian Wali: Wali itu terbagi menjadi dua: Wali Allah dan wali Thaghut. Dalam hal ini, Allah swt berfirman:

 اَللهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِنَ النُّوْرِ إِلَى الظُّلُمَاتِ، أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ .

“Allah wali (pelindung / penolong) bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedang orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut (syetan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. QS al-Baqaroh[2]: 257.

Pada ayat diatas Allah swt menghabarkan bahwa Dia adalah wali, yakni al-waliy dengan wazan fa’iyl bermakna faa’il (pelindung / penolong) bagi orang-orang yang beriman. Berarti orang-orang yang beriman adalah wali, yakni al-waliy dengan wazan fa’iyl bermakna maf’uwl (yang dilindungi / yang ditolong) bagi Allah swt. Allah mengeluarkan para walinya dari kegelapan, yakni dari kekufuran, termasuk dari kemusyrikan, kesesatan dan bid’ah. Berarti para wali Allah adalah orang-orang yang dikeluarkan dari kegelapan, yakni orang-orang yang meninggalkan kegelapan. Dan Allah memasukkan mereka kepada cahaya, yakni cahaya iman dan Islam. Sedang orang-orang kafir itu menjadi wali-wali (yang dilindungi / yang ditolong oleh) Thaghut (syetan). Berarti Thaghut adalah wali (pelindung / penolong) bagi orang-orang kafir. Thaghut mengeluarkan para walinya dari cahaya, dan memasukkannya kepada kegelapan. Ini sangat kontradiksi dengan di atas. Wali Allah Wali Allah atau wali Rahman, adalah orang mukmin yang bertakwa. Dalam hal ini Allah swt berfirman:

 أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ، الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ …

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. QS Yunus[10]: 62-63.

Pada ayat di atas Allah mengkhabarkan bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman yang selalu bertakwa. Imam Ghazali rh dalam al-Ihya’-nya menjelaskan, bahwa iman itu memiliki tiga peringkat; 1- Al-‘Iffah, yaitu menahan diri dari syahwat (kesenangan dunia), sedang subyeknya dinamakan afiyf. 2- Al-Waro’, yaitu menahan diri dari syahwat dan syubhat (perkara yang tidak jelas status hukumnya), sedang subyeknya dinamakan warok. 3- At-Taqwa, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat dan perkara yang dilarang atau diharamkan, sedang subyeknya dinamakan taqiy atau muttaqiy. Dan 4- Ash-Shidqu, yaitu menahan diri dari syahwat, syubhat, perkara-perkara yang dilarang atau diharamkan dan dari perkara mubah / halal, karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang dilarang atau diharamkan. Sedang subyeknya dinamakan shiddiyq. Dari uraian diatas menjadi jelas bahwa Wali Allah adalah orang mukmin (sudah tentu muslim) yang bertakwa, yaitu orang mukmin yang telah mencapai peringkat takwa, yakni orang mukmin yang telah menahan diri (menjauhi) dari perkara syahwat, syubhat, dan haram. Dan terkait wali Allah, Rasulullah saw bersabda:

 إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْئٍ أَحَبَّ إليّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا كُنْتُ أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يَبْصُرُ بِهِ وَيَدَّهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَإِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ . رواه البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه.

“Sesungguhnya Allah swt berfirman: “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada sesuatu yang talah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku tidak henti-hentinya beribadah kepada-Ku dengan yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Lalu ketika Aku mencintainya, maka aku menjadi (menjaga) pendengarannya yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia menyentuh dengannya, dan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan andaikan ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan permintaannya, dan andaikan ia berlindung dengan-Ku, niscaya Aku melindunginya”. HR Bukhari dari Abu Hurairah ra.

Pada hadis diatas Allah swt melalui Rasul-Nya telah memberi khabar terkait karakter wali Allah, yaitu hamba Allah yang selalu melaksanakan ibadah fardlu / wajib (termasuk kewajiban menjauhi apasaja yang diharamkan) dan ibadah sunnah (termasuk sunnah menjauhi apasaja yang makruh). Sedangkan arti Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki hamba-Nya, adalah bahwa Allah memberi keistimewaan kepadanya, sehingga bisa mendengar dan melihat diluar kemampuan orang normal, juga bisa menyentuh dan berjalan diluar kemampuan orang normal. Inilah yang dinamakan karomah. Atau artinya bahwa Allah menjaga pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya dari melakukan maksiat dan munkar. Jadi para wali Allah itu adalah orang-orang yang bertakwa. Dan terkait wali Allah, Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya berkata: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang ikhlas dan yang menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim dalam menentukan halal dan haram, yang berpegang teguh dengan sunnahnya, yang tidak membuat bid’ah dan tidak pula mengajak kepada bid’ah, tidak bergabung selain dengan golongan Allah, Rasulullah dan sahabatnya, tidak menjadikan agama sebagai permainan dan hiburan, tidak suka mendengarkan suara syetan sehingga mengalahkan suara al-Qur’an, tidak memilih berteman dengan para pemuda kecuali untuk mencari ridla Allah, tidak memilih musik dan nyanyian sehingga mengalahkan tujuh ayat yang diulang-ulang dalam shalat. Wali Rahman itu tidak akan serupa dengan wali syetan, kecuali bagi orang yang tidak punya mata hati (bashiroh).

Bagaimana bisa orang-orang yang berpaling dari kitab Allah dan petunjuk serta sunnah Rasul-Nya, dan menyalahi keduanya untuk mengambil yang lainnya, mereka menjadi wali-wali Allah?! Mereka benar-benar memukul-mukul dadanya (sombong seperti kongkong) ketika menyalahi petunjuk dan sunnahnya, dan mengambil selain petunjuk dan sunnahnya. Padahal Allah swt benar-benar berfirman:

 وَمَا كَانُوْا أَوْلِيَاؤُهُ، إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُوْنَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ .

“Dan tiadalah mereka itu wali-wali-Nya. Tidaklah ada wali-wali-Nya kecuali orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. QS al-Anfal[8]: 34.

Jadi wali-wali Rohman adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apasaja yang dicintai oleh al-Rohman, berdakwah kepada-Nya dan memerangi siapasaja yang keluar darinya. Sedang wali-wali syetan adalah orang-orang yang selalu mengerjakan apasaja yang dicintai oleh syetan, berdakwah kepadanya dan memerangi siapasaja yang keluar darinya”. Wali Thaghut Wali Thaghut (syetan) adalah kebalikan dari wali Allah, yaitu orang kafir dan musyrik, atau orang muslim yang telah kehilangan karakter takwanya, yakni orang muslim yang terjerumus ke dalam kubangan syahwat, syubhat dan haram. Ia telah menerjang segala hal dan segala perkara yang terkatagori syahwat, syubhat dan haram. Dan termasuk haram adalah meninggalkan kewajiban atau kefardluan agama Islam atas kaum muslim. Lebih jelasnya, ia telah melanggar dan menolak syariat Islam. Lebih jelasnya lagi, ia telah melanggar dan menolak hukum-hukum Allah swt untuk mengatur kehidupan, masyarakat dan negara. Berarti ia telah menerapkan dan mendakwahkan syariat Thaghut atau hukum-hukum Thaghut. Karena antara hukum Allah dan hukum Thaghut atau antara Islam dan kafir, adalah laksana antara barat dan timur, dimana kalau kita berjalan kebarat, berarti kita menjauhi timur dan sebaliknya. Juga karena yang namanya kehidupan, bermasyarakat dan bernegara itu bisa terwujud dengan adanya hukum (sistem) yang mengatur, bukan ruang kosong yang tak berpenghuni, dan bukan kehidupan orang-orang gila. Jadi ketika ada seseorang yang dianggap wali atau diwalikan tetapi telah kehilangan karakter ketakwaannya, maka saksikanlah bahwa dia adalah wali thaghut. Sedangkan sebuah perkataan yang telah populer dikalangan kaum muslim tradisionalis yang hobi mewali-walikan orang-orang yang punya keanehan, yaitu:

 لَا يَعْرِفُ الْوَلِيَّ إِلَّا الْوَلِيُّ .

“Tidak mengerti wali kecuali wali” Maka Imam Junaidi Al-Baghdadi, Imam Shufiyyah ASWAJA dan guru dari Syaikh Abbdul Qadir Jailani, terkait konotasi maqalah tersebut, beliau berkata:

 مَعْنَاهُ: وَاللهِ مَا عَرَفَ اللهَ إِلَّا اللهُ.{المجالس السنية، ص:10}.

“Maknanya; Demi Allah, tidak mengerti (hakekat) Allah kecuali Allah”. Allah swt juga dalam Al-Qur’an telah menjelaskan dengan firman-Nya:

 أَمِ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ، فَاللهُ هُوُ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِى الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ .

“Atau patutkah mereka mengambil wali-wali selain Allah? Maka Allah, Dialah Wali (Pelindung) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS asy-Syuro[42]: 9.

Jadi al-waliy pada perkataan di atas adalah Allah al-Waliy, bukan wali dari manusia. Menepis Syubhat Imam Ibnu Qayyim rh dalam kitab al-Ruh-nya juga berkata: “Maka ketika kamu melihat seorang laki-laki yang suka mendengarkan syetan, seruan syetan dan saudara-saudara syetan, dan dia juga mengajak kepada perkara yang disukai oleh syetan seperti syirik, bid’ah dan munkar, maka ketahuilah bahwa dia itu termasuk wali syetan. Kemudian ketika lelaki itu masih menyulitkan kamu, maka singkaplah dia dengan tiga perkara berikut:

Pertama: Shalat, serta cinta dan bencinya kepada sunnah dan ahli sunnah.

Yakni, ketika ia menegakkan shalat, mencintai sunnah dan ahli sunnah, berarti ia wali Rohman. Dan apabila ia tidak menegakkan shalat, seperti tidak melaksanakannya dengan berjamaah dan khusuk, atau mengeluarkannya dari waktunya, atau meninggalkannya tanpa udzur yang dibenarkan oleh syara’; dan tidak mencintai sunnah dan ahlinya, tetapi ia membencinya, atau ia lebih menyukai bid’ah, khurofat, kejahiliyahan dan kesesatan, maka ia adalah wali syetan.

Kedua: Dakwahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yakni, apabila ia mengajak ibadah kepada Allah semata dan mengikuti Rasul-Nya, maka ia adalah wali Rohman. Dan apabila ia mengajak ibadah kepada selain Allah dan mengikuti selain Rasul-Nya, maka ia adalah wali syetan.

Ketiga: Memurnikan tauhid, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya. Yakni apabila ia memurnikan tauhid dari syirik, baik syirik jaliy maupun syirik khafiy, mengikuti Rasulullah saw dan berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali Rohman. Dan apabila ia berbuat syirik, tidak mengikuti Rasulullah saw dan tidak berhukum dengan sunnahnya, maka ia adalah wali syetan.

Maka timbanglah ia dengan tiga perkara diatas, dan jangan menimbangnya dengan kondisi (yang aneh-aneh), mukasyafah dan perkara yang keluar dari kebiasaan, meskipun ia bisa berjalan diatas air dan terbang di udara”. Dan dalam hal ini, Ibnu al-Juwzy al-Baghdady dalam kitab Talbiysul Ibliys berkata: “Laiyts bin Saed berkata:

 لَوْ رَأَيْتُ صَاحِبَ بِدْعَةٍ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ مَا قَبِلْتُهُ .

“Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan diatas air, maka aku tidak menerimanya”. Lalu Imam Syafi’iy rh berkata:

 إِنَّ اللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ مَا قَصَّرَ، لَوْ رَأَيْتُهُ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَطَارَ فِي الْهَوَى مَا قَبِلْتُهُ .

“Sesungguhnya Laiyts bin Saed itu tidak meremehkan. Seandainya aku melihat pemilik bid’ah berjalan diatas air dan terbang di udara, maka aku tidak menerimanya”.

Wali-wali Allah adalah Pembela dan Penegak Agama Allah swt. Diatas telah dijelaskan bahwa wali Allah adalah orang yang beriman yang selalu bertakwa, sedangkan takwa -seperti diatas- adalah menahan diri (meninggalkan) perkara syahwat, syubhat dan haram, atau secara umum takwa adalah melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, wali-wali Allah adalah ulama akhirat, karena takwa itu tidak akan bisa sempurna tanpa ilmu yang memadai, yakni ilmu yang mencakup seluruh perintah dan larangan Allah swt yang harus dikerjakan dan ditinggalkan. Dalam hal ini syaikh Abdul Wahab Sya’roni rh dalam kitab al-Mizan al-Kubro-nya berkata:

 وَإِنْ لَمْ تَكُنِ الْأَئِمَّةُ الْمُجْتَهِدُوْنَ أَوْلِيَاءَ فَمَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ وَلِيٌّ أَبَدًا .

“Seandainya para imam mujtahid itu bukan wali-wali Allah, maka di atas bumi selamanya tidak akan ada wali Allah”.

Akhir kata: Dengan perkataan ini menjadi jelas bahwa yang layak disebut sebagai wali Allah adalah ulama akhirat, bukan ulama dunia. Sedangkan pada topik sebelumnya, yaitu konotasi Aswaja (13), telah saya jelaskan bahwa ulama yang Aswaja adalah ulama akhirat, bukan ulama dunia. Sedang ulama akhirat adalah wali-wali Allah. Berarti wali yang Aswaja adalah wali Allah, bukan wali thaghut. Ketika telah diketahui bahwa wali-wali Allah adalah ulama akhirat, sedang ulama akhirat adalah para pembela dan penegak agama Allah, maka kesimpulannya wali Allah adalah pembela dan penegak agama Allah swt. Dan sosok-sosok para wali Allah yang pasti diterima oleh mayoritas penduduk Indonesia adalah sosok Wali Songo, bukan sosok Syaikh Siti Jenar. Sedang Wali Songo adalah para pebela dan penegak agama Allah swt; Mereka sampai akhir hayatnya tidak pernah berhenti dari aktifitas dakwah menuju penerapan syariat (agama) Islam dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Dan berdirinya banyak kesultanan Islam (sebagai institusi Islam) di Nusantara adalah bukti sejarah yang tidak terbantahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RAHMAT FAMILY STORE - PUSAT GROSIR KAOS DISTRO PALING MURAH DAN BERKUALITAS DI CILILIN KBB.

RAHMAT FAMILY STORE  - Grosir Kaos Distro paling murah dan berkualitas terbesar di Cililin KBB. Assalamualaikum wr. wb Kami  Ucapkan Selamat Datang di Rahmat Family Store Official  Grosir Kaos Distro Berkualitas, anda sangat beruntung hari ini, Mengapa Karena kami  Pusat grosir kaos distro Langsung Dari Pabrik ingin mengajak Anda buka peluang usaha dengan bentuk penawaran Pakaian clothing kaos distro original Branded terbaik di Bandung  hanya disini satu satunya Supplier Baju Kaos Distro berkualitas dan murah  tentunya, Tersedia puluhan model motif keren  kami tawarkan special Reseller  Harga Grosir Bagi Siapapun yang ingin Berjualan Kaos Distro Termasuk Anda. Bingung mau buka usaha tapi modal minim ? Tenang kami Rahmat Family Store bisa membantu anda untuk memberikan penawaran Special Paket Harga Khusus Usaha Reseller  sehingga biaya lebih hemat bagi anda yang ingin menjual kembali edisi bulan puasa sebentar lagi buru...

SIAPA ITU ESA FADILAH?

Assalamualaikum wr.wb Kali ini saya akan memberikan biodata lengkap saya kepada kalian semua, alasan pembuatan ini supaya kalian para pengunjung blogger saya bisa tau siapa saya? Dan bagaimana latar belakang pendidikan saya? Ya, semua itu akan saya jelaskan di sini. Selamat membaca  Mungkin kalian semua bertanya siapa sih "ESA FADILAH " ITU? Nah,untuk menjawab rasa ingin tahu kalian atau dengan kata lain yaitu (kepo) yang begitu dasyat, di bawah adalah biodata dari ESA FADILAH.  Nama : Esa Fadilah  Tempat, Tanggal Lahir : Bandung,19 Juli 2000  Jenis Kelamin : Laki - Laki  Agama : Islam  Tinggi Badan : 167 Cm  Berat Badan : 51 Kg  Alamat Lengkap : Jl.Saar Sukamulya Cililin no. 13  Des. Karang Tanjung  Kec.Cililin  Kab.Bandung Barat  provinsi.jawa barat  Handphone : 0882-1983-0817  Status Pernikahan : Belum menikah    ● DATA PENDIDIKAN A.FORMAL SD : SDN 02 KARANG TANJUNG (2007 ...

BIOGRAFI MAMA ILYAS CIBITUNG JAWA BARAT - SEJARAH KEHIDUPAN MAMA ILYAS CIBITUNG.

Assalamualaikum Wr. Wb   Alhamdulillah dalam kesempatan ini saya  akan sedikit mengisahkan kepada kalian mengenai Waliyulloh dari Cibitung yang sering kita semua datang saat haolannya yaitu KH. MUHAMMAD ILYAS atau sering di sebut MAMA CIBITUNG, Selain itu juga KH. MUHAMMAD ILYAS (MAMA CIBITUNG) adalah salah satu diantara guru besar  KH. HILMAN FAUZI YAHYA CIHAMPELAS.  Dilansir dari  situs Kompasiana.com  di bawah ini merupakan biografi lengkap dari KH. MUHAMMAD ILYAS (MAMA CIBITUNG). “Tulisan ini masih bersifat sementara. Kepada semua fihak mohon koreksi dan memberikan data yang lebih lengkap” (HA.Saeful Mu’min Cihampelas) 1. Nama lengkap :  KH. MUHAMMAD ILYAS 2. Nama Panggilan :  MAMA CIBITUNG 3. Tempat, Tgl. Lahir : Lembur Gede Cibitung, Th. 1836 M 4. Wafat, Maqbaroh : Th 1953 (usia 117 th), Sukamanah Cibitung. 5. Nasab Ayah : Mama KH. Ali Lembur Gede Cibitung bin Embah Rahya Bogor Bin Hamdan Bogor berasal dari keturunan Dalem...

RAHMAT FAMILY STORE OFFICIAL - PRODUSEN KAOS POLOS DAN KAOS SABLON TERBESAR DI CILILIN.

Assalamualaikum Wr. Wb  Kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai usaha keluarga saya yaitu RAHMAT FAMILY STORE . Selamat membaca :D APA ITU  RAHMAT FAMILY STORE  ??? Rahmat Family Store  adalah perusahaan atau usaha keluarga yang bergerak di bidang konveksi yang bertempat di kampung Saar Sukamulya RT 02/ RW 08, Desa Karang tanjung, Kecamatan Cililin, KBB. Usaha ini di kelola oleh 4 pemuda yang sudah berpengalaman dalam bidang bisnis yaitu A Rahmat (PEMODAL), A  Giant Ginanjar (MANAGER), A dede Wahyudin (MARKETING), Esa Fadilah (SEKERTARIS). Usaha ini di bawah naungan  A Giant Ginanjar sebagai Manajer sekaligus pemilik dari usaha sablon yang sudah terkenal yaitu Naig Screen Printing yang ada di kampung Saar Sukamulya cililin KBB. Perusahaan kami memfokuskan untuk memenuhi PO orderan dari klien A Giant dan konsumen Online marketplace atau e-marketplace. APA RENCANA AWAL  RAHMAT FAMILY STORE  ??? Menur...

KISAH INSPIRASI KH. HILMAN FAUZI YAHYA CIHAMPELAS, BERJUANG FISABILILLAH SENDIRIAN.

Assalamualaikum wr.wb Alhamdulillah dalam kesempatan ini saya akan sedit bercerita mengenai Pondok Pesantren Nurul Hidayah Assalafiyah Al-islamiyah Cihampelas Bandung Barat. Selamat membaca  KISAH INSPIRASI KH. HILMAN FAUZI YAHYA CIHAMPELAS , BERJUANG FISABILILLAH SENDIRIAN. Pondok Pesantren Nurul Hidayah Assalafiyah Al-islamiyah Cihampelas – Bandung Barat, bertempat di Kampung Pasar Rt. 05 Rw. 02 Desa Mekarmukti Kecamatan Cihampelas . Saat ini santri yang mondok di pesantren kurang lebih enam puluh santri (data akan selalu berubah) Pondok Pesantren Nurul Hidayah Assalafiyah Al-islamiyah Cihampelas Pondok pesantren ini berdiri sejak tahun 1986  dan dipimpin oleh KH. Hilman Fauzi Yahya . KH. Hilman Fauzi Yahya Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hidayah Assalafiyah Al-islamiyah Cihampelas . KH. Hilman Fauzi Yahya pria kelahiran Gunung Halu – Bandung Barat ini awalnya adalah guru pesantren Kholafi Nurul Falah Cihampelas . Tetapi atas permintaan masya...

WIRDUL LATIF IMAM AL-HADAD - ESA FADILAH

Alhamdulillah dalam kesempatan ini saya akan membagikan wirid dan dzikir karya Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad yang dikenal dengan nama "Wirdul Latif" lengkap dengan tulisan bahasa arabnya. Habib Abdullah Alhaddad sendiri adalah seorang ulama besar asal negeri hadraumut, Yaman. beliau adalah seorang yang sholeh dan bergelar wali qutub serta diakui keluasan dan kedalaman ilmunya diseluruh dunia, bahkan karya karyanya baik kitab kitab fiqih serta dzikir dan wirid selalu dibaca oleh umat islam hingga kini. Dan dari banyak wirid karangannya, salah satunya adalah yang akan kita bahas kali ini yaitu wirdul latif.   wirid Al-Lathif sendiri cukup populer dan biasa dibaca pada pagi hari setelah subuh dan sore hari setelah shalat ashar  banyak sekali manfaat dan keutamaan yang akan didapatkan bagi siapa saja yang membaca dan mengamalkannya. setiap kalimat dzikir yang ada di wirdul-latif diambil langsung dari Al Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW untuk kemudian dir...

SD NEGERI KARANGTANJUNG 02 - SEKOLAH POPULER DI KAMPUNG SAAR SUKAMULYA

Assalamualaikum Wr. Wb Kali ini  saya  akan memberikan informasi mengenai sekolahan paling populer di kampung Saar Sukamulya RT 02/ RW 08 Desa Karang tanjung Kecamatan Cililin KBB, Dan sekaligus mantan sekolah SD dari  saya . Selamat membaca :D   Esafadilah123.blogspot.com  - SD NEGERI KARANGTANJUNG 2  adalah salah satu satuan pendidikan dengan jenjang  SD  di Karangtanjung, Kec. Cililin, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat. Dalam menjalankan kegiatannya, SD NEGERI KARANGTANJUNG 2 berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ALAMAT SD NEGERI KARANGTANJUNG 2 SD NEGERI KARANGTANJUNG 2 beralamat di Kp. Saar Mutiara, Karangtanjung, Kec. Cililin, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, dengan kode pos 40562. KONTAK YANG DAPAT DIHUBUNGI Apabila anda ingin bertanya atau menghubungi langsung SD NEGERI KARANGTANJUNG 2, dapat melalui beberapa media. Apabila ingin mengirimkan surat elektronik (email), dapat dikirimk...

SEJARAH HIDUP HABIB UMAR BIN ABDURRAHMAN AL-ATTAS (PENGARANG RÂTIBUL ATTAS)

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh Alhamdulillah dalam kesempatan ini saya akan sedikit berbagi informasi mengenai Biografi Alhabib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas ( Shohibul RATIB ). Selamat membaca :D Biografi Pengarang Râtibul Attas Beliau adalah Umar bin Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Ubaidullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syeikh al Ghauts Abdurrahman as-Seggaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alawi al Ghoyur bin Sayyidina al Faqih al Muqaddam Muhammad bin Ali bin Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah bin Imam al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib bin Imam Ali al Uraidhi bin Jaafar as Shadiq bin Imam Muhammad al Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Hussein as Sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib dan bin Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah S.A.W. Asal dinamakan Al Attas Kata al-Faqih Abdullah bin Umar Ba’ubad: “Beliau dinamakan al-Attas yang bermaksud bersin, karena ...